Thursday, August 2, 2012

Terobsesi Kamu

Malam ini, dengan mood melankolis saya, saya mencoba tidur dengan earphone menyumpal, vokalis band favorit saya Payung Teduh bersenandung di telinga.


Saya mencoba memejam mata. Satu. Dua. Tiga.



Kemudian saya ingat kamu.

3 bulan ini nggak akan pernah cukup untuk kita berdua. Makan malam. Nonton bioskop. Sekedar duduk di ruang tamu saya, atau di ruang keluarga kamu.

"What doesn't kill you makes you stronger," kata orang.

Kamu dan saya dari awal terbiasa hanya bertatap muka dalam beberapa hari saja di 2 atau 3 bulan. Saya tidak pernah menyangka ya, ketika akhirnya Tuhan ngasih waktu untuk kita ketemu selama hampir 3 bulan non-stop, justru akhirnya inilah yang paling membunuh saya.

3 bulan ini sepertinya berhasil meyakinkan saya. Bahwa saya sayang beneran sama kamu. Bahwa saya menikmati keberadaan kamu. Bahwa saya jatuh cinta dengan nasi goreng yang kamu bawa tengah malam saat saya tiba-tiba disamper rasa lapar. Bahwa saya tidak berhenti tersenyum sampai tidur kalau habis pergi jalan dengan kamu, lalu wangi parfum, kemeja, maupun rokok kamu, menempel di blus saya. Bahwa setiap hari yang berkurang jatahnya dalam 3 bulan ini membuat saya jauh lebih melankolis daripada saya yang biasanya: saya sebelum kamu.

Bahwa saya, terobsesi kamu.

Ini kumpulan air mata paling deras yang keluar dari mata saya selama 3 bulan ini akhirnya bareng-bareng kamu di kota yang sama. Paling deras, diantara air mata-air mata lain yang kamu tahu sederas apa kemarin mengalirnya. Saya pokoknya paling lemah kalau ingat kamu sebentar lagi pergi. Ini, Di, yang saya takutkan dari rasa sayang pada orang lain.

Waktu kamu akhirnya pergi nanti, saya takut nggak tahu lagi akan dapat dari mana sumber tenaga saya. Senyum saya. Matahari saya.. Saya takut, saya, nggak tahu lagi.

Walaupun kepulangan kamu ke Jakarta kali ini terkategori yang paling dramatis -- paling banyak senang, yang nyebelin-nyebelinnya paling keluar, paling banyak berantem nggak penting, dan paling anehnya, paling bikin saya sadar saya sayang kamu -- ini kepulangan kamu yang paling nggak bisa saya lupain dari 8 bulan sama kamu ini.

Mungkin terdengar lemah, dan saya sebenarnya paling nggak suka perempuan lemah. Tapi saya minta satu ya: jangan tinggalin saya.

Entah ini saya baru sadar bahwa saya segitu sayangnya sama kamu, atau ternyata saya terobsesi kamu seperti yang saya utarakan di atas.


"Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata ketika kita berdua. Hanya aku yang bisa bertanya, mungkinkah kau tahu jawabnya? Malam jadi saksinya, kita berdua diantara kata yang tak terucap, berharap waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban.."

Saturday, May 26, 2012

kamu, saya.

saya lagi menunggu masa-masa UAS dan persiapannya untuk berlalu. rasanya dari kemarin semua masalah kecil satu per satu tumbuh besar, semua perkataan orang jadi salah. a very high stress situation, indeed.

sayangnya,
kecewanya,
masalah yang terbesar justru datang diantara kamu, dan saya.

rasanya kemarin, bahkan waktu ngerjain tugas bareng teman kelompok, yang seharusnya justru rentan masalah, saya baik-baik aja dan penuh ketawa-ketawa sejak perjalanan sore-sore sampai di tujuan kami interview (ya, tugasnya interview dengan sebuah perusahaan.) tapi justru, tiba-tiba BBM kamu yang bikin saya sempet kehilangan mood untuk ngobrol sama kamu.

masalah sepele, yang mungkin karena saya lagi pusing di jalanan jumat jakarta yang macet, tapi maksa baca HP, jadi bikin saya benar-benar nggak mood lagi. dan kamu juga effortless untuk berdamai. maka, saya diam. sampai malam saat saya sampai rumah.

tadi siang, kita ngobrol di telepon. 2 jam. dalam 2 jam itu, kita bicara banyak: ketawa-ketawa, cerita tentang daily life kita beberapa hari ini, dan diantaranya masih terselip beberapa argumen yang muncul lagi disana. tapi at the end, kita baikan.

setelah baikan, kita kembali melanjutkan konversasi via BBM. ngobrol lagi, tapi akhirnya lagi, argumen kembali terseruak. dari masalah yang saaaangat simpel, dan rasanya normal untuk diperbincangkan, dan nggak perlu dijadikan masalah.

menatap layar HP, mata saya tiba-tiba panas. ada air yang tiba-tiba turun di bantal di pangkuan saya.

selain masalah tugas dan ujian, wanitamu rasanya sedang nggak perlu menghadapi lagi masalah-masalah kecil yang apparently membuat dia kehilangan kekuatan untuk menahan butir-butir air yang tersimpan di matanya. apalagi, yang terpaksa keluar justru karena orang yang seharusnya mengayomi, men-support dia.

menulis ini sambil mendengarkan band galau favorit saya, sheila on 7, mereka makin nggak berhenti. saya salah strategi, sih, sepertinya.

Sunday, April 29, 2012

blood is thicker than water!







Public Relations Team - MIST 2012
never ending laughter. rindu!

The Stenographer's First Writing

malam!

jadi inilah blog kedua saya. rasanya lama-lama harus melepaskan diri dari alter ego serena. makin tua, euy. tanpa serena, hidup saya harus jalan terus, kan?

asedap.

tapi bukan berarti saya melepaskan serena sekarang, pemirsa. chill a little. kayaknya sih, nanti saya lakukan perlahan. seiring waktu berjalan, seiring kebosanan saya dengan serena. :) saya masih butuh soalnya, cerita-cerita ala alter ego saya yang itu.

well, karena kekosongan waktu yang cukup lama (saya gak masuk kuliah dari kamis siang, dan sekarang hari minggu), saya tiba-tiba tadi siang merasakan lagi hasrat ngeblog! ngomong-ngomong, lama juga ya saya nggak nulis? jadilah saya mulai-mulai browsing inspirasi buat title blog baru.

i first searched for new blog title, but then i think i ended up with an indie band name. an awesome one..

Stenographer Deciphering The Ode.

stenography: the action or process of writing in shorthand or taking dictation.

decipher: convert (a text written in codeor a coded signal) into normal language.

odea lyric poem in the form of an address to a particular subject, often elevated in style or manner and written in varied or irregular meter.• historical a poem meant to be sung.


jadi kurang lebih kalau digabungkan artinya a quick writer who interprets lyrical poems into an everyday language.. if i'm not mistaken?
(berhubung saya gampang banget jatuh cinta sama kata-kata indah, kira-kira semua kata-kata indah buat saya jadi semacam lyrical poem, gitu lah)