Terobsesi Kamu
Malam ini, dengan mood melankolis saya, saya mencoba tidur dengan earphone menyumpal, vokalis band favorit saya Payung Teduh bersenandung di telinga.
Saya mencoba memejam mata. Satu. Dua. Tiga.
Kemudian saya ingat kamu.
3 bulan ini nggak akan pernah cukup untuk kita berdua. Makan malam. Nonton bioskop. Sekedar duduk di ruang tamu saya, atau di ruang keluarga kamu.
"What doesn't kill you makes you stronger," kata orang.
Kamu dan saya dari awal terbiasa hanya bertatap muka dalam beberapa hari saja di 2 atau 3 bulan. Saya tidak pernah menyangka ya, ketika akhirnya Tuhan ngasih waktu untuk kita ketemu selama hampir 3 bulan non-stop, justru akhirnya inilah yang paling membunuh saya.
3 bulan ini sepertinya berhasil meyakinkan saya. Bahwa saya sayang beneran sama kamu. Bahwa saya menikmati keberadaan kamu. Bahwa saya jatuh cinta dengan nasi goreng yang kamu bawa tengah malam saat saya tiba-tiba disamper rasa lapar. Bahwa saya tidak berhenti tersenyum sampai tidur kalau habis pergi jalan dengan kamu, lalu wangi parfum, kemeja, maupun rokok kamu, menempel di blus saya. Bahwa setiap hari yang berkurang jatahnya dalam 3 bulan ini membuat saya jauh lebih melankolis daripada saya yang biasanya: saya sebelum kamu.
Bahwa saya, terobsesi kamu.
Ini kumpulan air mata paling deras yang keluar dari mata saya selama 3 bulan ini akhirnya bareng-bareng kamu di kota yang sama. Paling deras, diantara air mata-air mata lain yang kamu tahu sederas apa kemarin mengalirnya. Saya pokoknya paling lemah kalau ingat kamu sebentar lagi pergi. Ini, Di, yang saya takutkan dari rasa sayang pada orang lain.
Waktu kamu akhirnya pergi nanti, saya takut nggak tahu lagi akan dapat dari mana sumber tenaga saya. Senyum saya. Matahari saya.. Saya takut, saya, nggak tahu lagi.
Walaupun kepulangan kamu ke Jakarta kali ini terkategori yang paling dramatis -- paling banyak senang, yang nyebelin-nyebelinnya paling keluar, paling banyak berantem nggak penting, dan paling anehnya, paling bikin saya sadar saya sayang kamu -- ini kepulangan kamu yang paling nggak bisa saya lupain dari 8 bulan sama kamu ini.
Mungkin terdengar lemah, dan saya sebenarnya paling nggak suka perempuan lemah. Tapi saya minta satu ya: jangan tinggalin saya.
Entah ini saya baru sadar bahwa saya segitu sayangnya sama kamu, atau ternyata saya terobsesi kamu seperti yang saya utarakan di atas.
"Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata ketika kita berdua. Hanya aku yang bisa bertanya, mungkinkah kau tahu jawabnya? Malam jadi saksinya, kita berdua diantara kata yang tak terucap, berharap waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban.."

Leave a Reply